Selasa, 26 Juni 2012

BUDIDAYA PAKAN ALAMI DAPHNIA SP.


 BUDIDAYA ZOOPLANKTON Daphnia sp.

           
         Daphnia adalah filum Arthropoda yang hidup secara umum di perairan tawar. Spesies-spesies dari genus Daphnia ditemukan mulai dari daerah tropis hingga arktik dengan berbagai ukuran habitat mulai dari kolam kecil hingga danau luas. Dari lima puluh spesies  genus ini di seluruh dunia, hanya enam spesies yang secara normal dapat ditemukan di daerah tropika. Salah satunya adalah spesies Daphnia magna (Delbaere & Dhert, 1996)

Menurut Pennak (1989), klasifikasi Daphnia magna adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Subfilum : Crustacea
Kelas : Branchiopoda
Subkelas : Diplostraca
Ordo : Cladocera
Subordo : Eucladocera
Famili : Daphnidae
Subfamili : Daphnoidea
Genus : Daphnia
Spesies : Daphnia magna

1.2 Morfologi Daphnia magna

       Pembagian segmen tubuh Daphnia hampir tidak terlihat. Kepala menyatu, dengan bentuk membungkuk ke arah tubuh bagian bawah terlihat dengan jelas melalui lekukan yang jelas. Pada beberapa spesies sebagian besar anggota tubuh tertutup oleh carapace, dengan enam pasang kaki semu yang berada pada rongga perut. Bagian tubuh yang paling terlihat adalah mata, antenna dan sepasang seta. Pada beberapa jenis Daphnia, bagian carapace nya tembus cahaya dan tampak dengan jelas melalui mikroskop bagian dalam tubuhnya.
     Beberapa Daphnia memakan crustacean dan rotifer kecil, tapi sebagian besar adalah filter feeder, memakan algae uniselular dan berbagai macam detritus organik termasuk protista dan bakteri. Daphnia juga memakan beberapa jenis ragi, tetapi hanya di lingkungan terkontrol seperti laboratorium. Pertumbuhannya dapat dikontrol dengan mudah dengan pemberian ragi. Partikel makanan yang tersaring kemudian dibentuk menjadi bolus yang akan turun melalui rongga pencernaan sampai penuh dan melalui anus ditempatkan di bagian ujung rongga pencernaan. Sepasang kaki pertama dan kedua digunakan untuk membentuk arus kecil saat mengeluarkan partikel makanan yang tidak mampu terserap. Organ Daphnia untuk berenang didukung oleh antenna kedua yang ukurannya lebih besar. Gerakan antenna ini sangat berpengaruh untuk gerakan melawan arus (Waterman, 1960).

1.3 Reproduksi
         Mekanisme reproduksi Daphnia adalah dengan cara parthenogenesis. Satu atau lebih individu muda dirawat dengan menempel pada tubuh induk. Daphnia yang baru menetas harus melakukan pergantian kulit (molting) beberapa kali sebelum tumbuh jadi dewasa sekitar satu pekan setelah menetas. Siklus hidup Daphnia sp. yaitu telur, anak, remaja dan dewasa. Pertambahan ukuran terjadi sesaat setelah telur menetas di dalam ruang pengeraman. Daphnia sp. dewasa berukuran 2,5 mm, anak pertama sebesar 0,8 mm dihasilkan secara parthenogenesis. Daphnia sp. mulai menghasilkan anak pertama kali pada umur 4-6 hari. Adapun umur yang dapat dicapainya 12 hari. Setiap satu atau dua hari sekali, Daphnia sp. akan beranak 29 ekor, individu yang baru menetas sudah sama secara anatomi dengan individu dewasa (Gambar 2). Proses reproduksi ini akan berlanjut jika kondisi lingkungannya mendukung pertumbuhan. Jika kondisi tidak ideal baru akan dihasilkan individu jantan agar terjadi reproduksi seksual (Waterman, 1960).
          Daphnia jantan lebih kecil ukurannya dibandingkan yang betina. Pada individu jantan terdapat organ tambahan pada bagian abdominal untuk memeluk betina dari belakang dan membuka carapacae betina, kemudian spermateka masuk dan membuahi sel telur. Telur yang telah dibuahi kemudian akan dilindungi lapisan yang bernama ephipium untuk mencegah dari ancaman lingkungan sampai kondisi ideal untuk menetas (Mokoginta, 2003).
         Salah satu metode kultur Daphnia sp. yang sering digunakan adalah metodde pemupukan. Pupuk yang digunakana adalah pupuk organik dan anorganik (Ivleva, 1973 dalam Casmuji, 2002). Pupuk organik dapat berfungsi sebagai sumber makanan secara langsung untuk Daphnia sp. dan organism makanan ikan lainnya atau diuraikan oleh bakteri menjadi bahan-bahan organik yang merangsang pertumbuhan fitoplankton dan zooplankton (Boyd, 1982 dalam Casmuji, 2002).
         Pupuk organik yang bisa digunakan untuk kultur Daphnia sp adalah kotoran aym, kotoran sapi, kotoran babi, kotoran kambing/domab, da kotoran kuda. Namum , dari berbagai jenis kotoran tersebut menurut Kadarwan (1974) dalam Casmuji (2002) kotoran ayam dianggap lebih baik daripada kotoran kandang lainnya.

Tabel 1  Kandungan unsur-unsur hara pada beberapa pupuk kandang
Jenis
Kadar (%)
Nitrogen
Phosphor
Kalium
Bahan organik
Kotoran ayam
4
3.2
1.9
74
Kotoran kambing
2.77
1.78
2.88
60
Kotoran domba
2
1
2.55
60
Kotoran kuda
0.7
0.34
0.52
60
Kotoran sapi
0.7
0.3
0.65
30
       
           Untuk pemupukan dengan kotoran ayam dosis awal yang diberikan yaitu sebanyak 500 g/m3 dan 250 g/m3 setiap hari (Shpet dalam Casmuji, 2002). Sedangkan menurut Suprayitno (1986) dalam Casmuji (2002) untuk mendapatkan media kultur yang baik kotoran ayam kering yang digunakan untuk kultur Daphnia sp. adalah 2-5 g/l air. Di bawah ini dijelaskan metode budidaya daphnia (Darmanto dkk., 2000).
Bahan-bahan yang diperlukan :
- Bak beton / kolam budidaya ukuran 2 x 3 meter, dengan ketinggian 1 meter.
- Pupuk organik, yaitu kotoran ayam  dan pupuk kompos (kebutuhan masing-
masing 1-1,5 kg/m3 air media).
- Kantong waring untuk tempat pupuk  dan tali  pengikat.
Prosedur :
- Isi bak / kolam budidaya dengan air sampai ketinggian minimal 70 – 80 cm, untuk menjaga kestabilan suhu media  dan menghindarkan Daphnia dari pengaruh langsung sinar matahari.
- Siapkan pupuk kandang, yaitu kotoran ayam dan pupuk kompos dengan dosis masing-masing sebanyak 1 kg/m3 untuk budidaya Moina, sedangkan pada budidaya Daphnia kotoran ayam 1,5 kg/m3 dan kompos 1 kg/m3.
- Masukkan pupuk kandang tersebut ke dalam kantong waring, ikat dan masukkan ke dalam kolam budidaya.
- Satu hari kemudian masukkan bibit Daphnia sebanyak 5 gram/m3.

Pengkayaan Daphnia sp.
           Pengkayaan daphnia salah satunya dapat menggunakan viterna yang merupakan suplemen yang berasal dari berbagai macam bahan alami yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan nutrisi dan mempercepat pertumbuhan (Wisnu, 2007 dalam Mufidah dkk., 2009). Pengkayaan tersebut bertujuan untuk menambah nutrisi Daphnia yang diharapkan dapat mempengaruhi kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva. Nilai nutrisi yang terkandung dalam Daphnia berat basah adalah 4 % protein (Schumann, 2006 dalam Mufidah dkk., 2009), 0,54 % lemak dan 0,67 % karbohidrat (Wahyu, 2007 dalam Mufidah dkk., 2009). Sedangkan, nutrisi viterna adalah 42,82 % protein, 47,31 % karbohidrat, 4,5 % lemak, 2,74 % mineral dan 2,63 % vitamin (Fauzan, 2004 dalam Mufidah dkk., 2009).
           Daphnia mempunyai sifat non-selective filter feeder yaitu menyaring semua makanan yang ada tanpa memilih, sehingga viterna yang telah diberikan dalam media pemeliharaannya akan dimakan atau diserap oleh Daphnia. Selanjutnya, Daphnia yang telah diperkaya dengan viterna akan dimakan oleh larva (Mufidah dkk., 2009).
          Wisnu (2007) dalam Mufidah dkk. (2009) menyatakan, dosis viterna untuk pertumbuhan ikan sebanyak 12,5 ml yang dilarutkan dalam 250 ml air, kemudian dicampur pakan buatan (pellet) sebanyak 2-3 kg pakan. Pakan tersebut diberikan terhadap ikan lele, gurami dan nila. Pemberian pakan buatan (pellet) yang telah dicampur dengan viterna bertujuan untuk menggemukan ikan, daging ikan menjadi padat dan pertumbuhan ikan sangat cepat serta ekonomis.
Penelitian pendahuluan menggunakan viterna dengan beberapa dosis yaitu 10 ml/L air, 50 ml/L air, 100 ml/L air, 200 ml/L air dan kontrol (tanpa penambahan viterna) dan lama pengkayaan 2 jam, 4 jam, 6 jam, 8 jam, 10 jam dan 12 jam. Viterna tersebut dimasukan dalam media pemeliharaan terlebih dahulu agar tercampur merata dengan air sebagai media pemeliharaan Daphnia. Selanjutnya, Daphnia dimasukkan ke dalam media pemeliharaan dengan populasi berkisar antara 500 ekor/L air. Selanjutnya, dilakukan pengamatan setiap 2 jam sekali. Pengamatan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 100 kali. Hasil dari penelitian pendahuluan didapatkan, pada 4 jam pengkayaan hasil yang diperoleh adalah usus Daphnia terisi penuh viterna dengan populasi Daphnia yang meningkat terutama pada dosis 10 ml dan 50 ml. Isi usus Daphnia spp. pada jam keempat (Mufidah dkk., 2009).


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006. Daphnia sp. http://www.microcosmos.nl/vlooi/daphnia01.htm. [26 April, 2010].
Casmuji. 2002. Penggunaan Supernatan Kotoran Ayam dan Tepung Terigu Dalam Budidaya Daphnia Sp. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Darmanto et al. 2000. Budidaya Pakan Alami untuk Benih Ikan Air Tawar. [Paper]. Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Instalasi Penelitian Dan      Pengkajian Teknologi Pertanian. Jakarta
Mokoginta I. 2003. Budidaya Daphnia. [Modul]. Direktorat Menengah Kejuruan . Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional.
Mufidah dkk. 2009. Pengkayaan Daphnia Spp. dengan Viterna terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Larva Ikan Lele Dumbo (Clarias Gariepinus). http://journal.unair.ac.id/filerPDF/9_Naila_rev.pdf. [26 April 2010].

2 komentar:

  1. buat smua teman-teman diharapkan adanya saran dan masukan, guna meningkatnya blog ini.... salam perikanan.

    BalasHapus
  2. salam kenal sdr. Laode
    selain kotoran, media pakan untuk dapnia yang baik ada tidak,
    dan moina itu apa?
    trima kasih

    BalasHapus